Dawan – Garam tradisional Kusamba, kebanggaan Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, telah menembus pasar dunia dan mendapat pengakuan lewat Sertifikat Indikasi Geografis. Namun di balik kesuksesannya, produk ini menyimpan tantangan serius: para petani makin menipis, regenerasi generasi muda lemah, dan praktik pengoplosan yang mengancam keaslian garam.
Mangku Rena: Penjaga Warisan di Tengah Tantangan
Salah satu figur yang berjuang mempertahankan tradisi ini adalah Mangku Rena. Beliau adalah generasi keempat dalam keluarganya yang terus menekuni usaha garam khas Kusamba. Proses pembuatannya pun tetap tradisional: pasir disiram air laut, dijemur, lalu disaring dan dijemur ulang selama beberapa hari hingga menghasilkan garam murni. Radar Bali
Meski usianya telah 73 tahun, semangatnya belum padam. Setiap hari, dari usaha garam miliknya beliau mampu menghasilkan sekitar 10–15 kilogram garam murni. Radar Bali Namun, jumlah produksi skala kecil ini tak sebanding dengan kerasnya pekerjaan dan tantangan yang terus meningkat.
Tantangan Utama: Regenerasi yang Nyaris Hilang
Dari liputan Radar Bali, salah satu hal penting yang disoroti adalah bahwa profesi petani garam semakin ditinggalkan generasi muda. Radar Bali Mereka lebih memilih pekerjaan dengan beban fisik lebih ringan dan pendapatan yang lebih pasti dibandingkan memikul risiko usaha garam tradisional.
Mangku Rena mengaku khawatir bahwa jika tidak ada generasi muda yang mau meneruskan, tradisi pembuatan garam khas ini bisa punah. Radar Bali Lebih parah lagi, rata-rata petani garam kini adalah kalangan lanjut usia, tanpa pengganti yang cukup kuat. Radar Bali
Ancaman dari Pengoplosan
Selain masalah regenerasi, liputan ini juga mengungkap bahwa praktik garam oplosan menjadi ancaman serius. Beberapa produk garam yang bukan hasil produksi tradisional diklaim sebagai “garam Kusamba” dan dijual dengan harga lebih murah, merusak reputasi garam asli sekaligus merugikan petani lokal. Radar Bali
Pengoplosan ini membuat produksi asli kesulitan bersaing dari sisi harga. Karena itu, penguatan legalitas (seperti IG), kontrol mutu, dan edukasi konsumen sangat penting agar garam Kusamba asli dihargai sesuai nilai dan keasliannya.
Inovasi & Dukungan
Meski tantangan banyak, harapan tetap ada. Berikut berbagai langkah yang telah dan sedang dijalankan:
- Peningkatan branding & kemasan — garam dipasarkan sebagai produk “Uyah Kusamba Alami / Umami” yang menekankan keaslian dan cara produksi tradisional. Radar Bali
- Dukungan pemerintah (pusat & daerah) dalam bentuk bantuan alat, pelatihan, dan regulasi agar produk lokal bisa masuk pasar formal.
- Inovasi produksi seperti penggunaan tunnel garam, geomembran, dan teknik penjemuran yang lebih efisien agar daya tahan produksi terhadap cuaca membaik.
- Perlindungan legal melalui Indikasi Geografis (IG) untuk menjaga keaslian dan identitas produk.
Antara Kebanggaan dan Ancaman
Garam Kusamba telah mendunia — sebuah bukti bahwa produk lokal tradisional bisa bertahan dan bersaing di pasar global. Namun keberlanjutan tradisi ini sangat tergantung pada ada atau tidaknya generasi muda yang mau meneruskan. Ditambah, pengoplosan menjadi “musuh dalam selimut” yang bisa meruntuhkan kepercayaan konsumen terhadap produk asli.
Jika komunitas, pemerintah, dan masyarakat bersama-sama memperkuat dukungan — dari regulasi, edukasi, insentif, hingga kampanye kesadaran — bukan tidak mungkin garam Kusamba akan tetap hidup dan berkembang, bukan hanya sebagai kenangan lama, tapi sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang terus relevan.